Ibu Dapur, Pahlawan Santri Pondok dan Keluarganya

Ibu Dapur, begitulah kami akrab memanggilnya saat itu dan bahkan hingga saat ini panggilan itu telah melekat dan terus tertular pada adik – adik santri pondok yang lainnya, itu artinya Ibu Dapur masih tetap memasak hingga detik ini dipondok pesantren ku tercinta, Pondok Pesantren Nurul Huda Lampung. Ya, aku salah satu alumni pondok pesantren nurul huda yang telah lulus pada 6 tahun silam tepatnya pada tahun 2009.

Namanya Ibu Suwarni , Ibu Suminah dan Ibu Fadhilatun , mereka lah yang senantiasa memasak makanan untuk kami semua, mulai dari Sarapan, Makan Siang dan Makan Sore. Jarak rumah beliau dengan pondok pesantren kira – kira 1/2 km yang ditempuh dengan jalan kaki setiap harinya baik datang maupun pulang, tak membuatnya berhenti untuk kami semua.

ibu warni dibantu satriwati pondok

ibu warni dibantu satriwati pondok

ibu suminah dan ibu fadhilatun dapur pondok

ibu suminah dan ibu fadhilatun dapur pondok

Saat menyiapkan sarapan, beliau – beliau datang ke pondok selepas shalat subuh, dengan mata sayu dan wajah yang tua yang telah terbasuh air wudhu, bergegas segera pergi ke dapur pondok untuk memasak. Dibantu beberapa orang santriwan dan santriwati yang sedang piket dapur, mulai dari memotong sayur, memasak nasi, dan bumbu masakan lainnya.

Bukan hanya sekedar memasak 3 atau 5 porsi melainkan membuat makanan untuk seluruh santri yang ada, santri pondok pesantren nurul huda lampung yang jumlahnya hampir 700 orang baik laki – laki maupun perempuan.

Menu makanan Favorite yang selalu saya kenang dan paling istimewa adalah “Selobor”, dan itu mungkin bukan hanya saya seorang yang mengenangnya, tapi semua alumni ingat dengan nama masakan itu. Selobor adalah sayur yang berbahan dasar KOL + SAWI yang di cacah – cacah dicampur jadi satu dan hanya ditemani kerupuk. “tv kabel

Seusai memasak masakan untuk sarapan mereka kembali memikirkan dan mengerjakan semua nya untuk menyiapkan makan siang dan makan sore. Sebuah pekerjaan yang telah menjadi rutinitasnya setiap hari. Tanpa seorang ibu dapur yang sabar dan ikhlas tak akan ada yang mau melakukan itu semua.

ibu suminah tengah memasak didapur pondok

ibu suminah tengah memasak didapur pondok

Aku yakin setiap pondok pesantren pasti ada pahlawan seperti mereka ini, Ibu Dapur. Maka dari itu dalam tulisan “made for minds” ini Aku sangat bersyukur dan mengucapkan berterima kasih kepada Ibu Dapur yang telah berjuang selama aku berada di pondok pesantren sampai saat ini dan aku percaya bahwa beliau mau melakukan ini semua juga demi mencukupi kebutuhan keluarganya dirumah. “smart tv

foto saat menikmati tahu piket dapur

foto 6 tahun lalu ,saat menikmati tahu piket dapur

Beberapa Komentar :  

komentar fb

komentar fb